Kamis, 04 September 2025

Sudah Masuk Bulan September

 Ya, sudah masuk bulan September di tahun 2025. Yang artinya sebentar lagi 2025 akan berakhir dan menuju 2026. Setelah membaca postingan sebelumnya, "Tertegun", alhamdulillah beberapa poin disana sudah terlaksana. 

1. Alhamdulillah cicilan sudah lunas semua

2. Pajak STNK motor sudah terbayar

3. Ulang tahun Habibah juga sukses datang ke rumahnya bersama umi Sari

4. Kontrol behel pada saat itu mampu terbayar walaupun awalnya ragu sampai meminjam uang mama (lupa berapa nominalnya) tapi ternyata uangku cukup. Akhirnya ku transfer lagi ke mama setelah pulang dari dokter gigi.

5. Paket internet mampu terbeli. Sekarang sedang memikirkan harga paket internet IM3 yang semakin mahal. Kurang lebih aku harus mengeluarkan 200ribu rupiah untuk 2 hp. 1 untuk daily, 1 untuk kerjaan.

6. Film pendek masih sedang dalam proses edit. Sudah di cut bagian yang perlu diambil. Separuh sudah di color grading. Tinggal penyesuaian suara dan efek suara jika diperlukan. Setelah itu penambahan subtitel bahasa Inggris karena teman-teman dari luar Indonesia mau menontonnya juga. Umi Sari sudah menanyakan kapan filmnya selesai. Jujur saja kadang berlama-lama di depan hp sambil mengedit membuatku beberapa kali menjatuhkan hp itu karena mengantuk. Aku kepikiran untuk mengedit di cafe agar lebih fokus, karena di kamar rasanya ingin selalu rebahan.

7. Aku sudah tidak terlalu memikirkan brand iPhone. Sekarang aku mulai memikirkan brand Samsung terutama tipe S25 Ultra. Entahlah. Lihat saja nanti.

8. Ide konten, selalu menjadi beban pikiran yang takkan pernah usai.

9. Tab buat mama. Sudah coba lihat-lihat di Tokopedia, sepertinya aku akan membelikan Redmi Pad Pro, harganya sekitar 3,8 Juta. Entah kapan aku bisa membelinya. Sepertinya aku mau beli tab yang sama untukku sendiri. Sekarang yang kupikirkan adalah biaya behel yang kemungkinan akan dilepas akhir tahun ini, biaya ke dokter kulit untuk wajah, dan biaya tiket ke Kalimantan jika jadi pergi kesana.


Dan masalah kehidupan sosialku, banyak yang terjadi akhir-akhir ini. Aziz kembali menghubungiku lagi saat malam takbiran idul adha, 6 Juni 2025 dini hari (ya, sebelum postingan "Tertegun"). Dia sudah menikah, dan menikah di bulan yang sama dengan mantanku. Aziz 1 Desember 2024, mantanku 14 Desember 2024. Dia menghubungiku di aplikasi dimana kita bertemu. Lalu meneleponku di Whatsapp. Karena tidak aku hiraukan, dia menelepon menggunakan panggilan normal (dengan pulsa) menggunakan nomor pribadinya dan nomor baru yang aku tidak kenal, tapi sama-sama dari Malaysia, jadi kuyakin itu nomornya. Setelah beberapa lama aku akhirnya meresponnya, ku buat dia ilfeel, lalu dia tidak membalas pesanku lagi. Kemudian aku memblokirnya di semua akses yang biasa kita gunakan.

Kedua, Arfin, dari India. Di suatu pagi disaat aku baru bangun tidur, dia meneleponku dan mengatakan ingin menyampaikan sesuatu. Singkatnya, dia bilang dia ingin menjadikan aku pasangannya sedangkan dia saat itu juga sudah memiliki pacar (yang mana pacarnya itu orang Indonesia juga). Namun bukan pacaran yang dia inginkan, dia ingin memilikiku sebagai istrinya dan nantinya dia juga berencana akan memperistri pacarnya yang sekarang. Dia bilang, demi Allah, dia berjanji akan berlaku adil kepada istri-istrinya (karena kemungkinan dia akan menambah istri lagi setelah itu, kurasa).

I was like, "Ini orang gila apa ya? pagi-pagi baru banget bangun tiba-tiba ditawarin jadi istri poligami!"

Disaat aku masih trauma dengan kisahku yang gagal menikah sampai akhirnya tidak mau menikah, orang ini menawarkan skenario drama percintaan terburuk yang pernah aku bayangkan. Betapa dia memandangku hanya sebagai koleksi semata. Itulah mengapa aku takut dengan pria yang berpunya. Dia merasa semuanya dapat ia beli dengan uangnya tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Yang penting keinginannya tercapai. Persetan dengan janji yang diucapkan. Selama itu aman baginya, maka dia akan berjalan terus mengikuti hawa nafsunya.

Aku marah. Namun dia bilang aku tidak perlu menjawabnya pada hari itu juga. Aku diminta untuk berpikir dan memberikan jawaban 1 tahun kedepan.

Setelah perbincangan itu, aku merasa tidak nyaman dengannya. Padahal aku berpikir kita adalah teman baik dan akan berteman dalam waktu yang lama. Sikapnya juga berubah. Dia sering mengirimiku pesan seakan-akan aku adalah pacarnya dan itu membuatku risih. Beberapa kali dia meminta untuk bicara lewat telepon tetapi selalu ku tolak karena aku masih shock dengan permintaan dia yang seperti itu dan sialnya itu terus bergelayutan di kepalaku. Sampai suatu ketika aku mengalami vertigo untuk yang pertama kali dalam hidup. Aku memberitahunya bahwa aku sedang vertigo, dia sedikit khawatir dan menelepon, aku tidak mengangkatnya. KARENA AKU SEDANG PUSING. Lama aku tidak membalas pesannya, dan respon yang kulihat sama seperti saat mantanku mengetahui bahwa aku sakit. Hanya mengatakan semoga cepat sembuh. Setelah berpikir beberapa waktu, aku memutuskan untuk tidak bicara dengannya selama 3 bulan. Saat dia bertanya kenapa, aku hanya memberi jawaban ngambang. Ya, sama seperti yang biasa dia lakukan padaku. Dulu dia biasa meninggalkanku untuk waktu yang sangat lama dan kembali saat dia sudah ingin bicara. Kadang dia juga memintaku untuk memblokirnya di Whatsapp maupun Instagram. Aku selalu melakukannya. Namun saat dia meminta untuk membuka blokir Instagramnya kembali, aku tidak mau. Aku membuka blokir Whatsapp nya karena dia menghubungiku menggunakan nomor lain dan kurasa aku bisa menjalin hubungan pertemanan yang baik lagi dengannya. Tapi ternyata drama seperti itu terulang lagi dan dia menghubungiku di waktu yang tidak seharusnya (misalnya dia bilang tidak ingin bicara selama 2 bulan, tapi sebelum 2 bulan dia sudah mengirimiku pesan). Aku tidak menjawabnya. Aku baru membalas pesannya ketika benar-benar tepat 2 bulan. Dan setelah kami bicara lagi, dia bilang dia sudah mempunyai pacar yang dia kenal dari Tinder. Aku sedikit tidak peduli apalagi saat dia berusaha untuk menceritakan tentang pacarnya itu. Aku bilang padanya untuk berhenti menghubungiku untuk hal-hal yang tidak penting karena aku menghargai pasangannya sebagai sesama perempuan, dan akupun tidak ingin jika aku punya pasangan nanti pasanganku masih suka menghubungi teman perempuannya hanya untuk haha hihi. Dia agak tidak setuju tapi aku meyakinkannya, lalu setelah itu kami berjarak. Hingga suatu hari muncullah tawaran poligami yang kuceritakan diawal itu. Sampai saat ini aku masih mendiamkannya karena ini belum 3 bulan (akan berakhir di awal bulan Oktober). Sejak aku meminta untuk tidak bicara selama 3 bulan, dia selalu berusaha menghubungiku dengan telepon berkali-kali dan mengirim pesan yang membuatku risih. Entah apa yang akan aku katakan padanya saat tepat 3 bulan nanti. Dan entah aku masih mau berteman dengannya lagi atau tidak. Kita lihat saja nanti.

Ketiga, Sarfraaz, India (lagi). Aku mengenalnya lewat aplikasi yang sama seperti saat aku kenal Aziz dan Arfin. Dia sedang pulang ke India dari yang sebelumnya dia kuliah di Prancis (sekarang sudah lulus) dan mengambil pekerjaan part time. Dia berencana akan kembali lagi ke Prancis tanggal 6 September 2025. Sebenarnya sudah tidak ada lagi masalah dengannya, tapi aku masih kesal karena peristiwa yang pernah terjadi diantara kita. Aku pernah suka dengannya tapi aku merasa dia memanfaatkanku hanya untuk fantasinya sedangkan dia pernah bercerita dia punya teman perempuan di Prancis dan dia menutupi bagian tubuh perempuan itu karena terlalu terbuka, sedangkan dia melihatku seperti wanita murahan. Aku kecewa padanya. Kita sempat tidak berkomunikasi sangat lama dan bulan lalu kita saling berbalas pesan lagi. Sampai suatu ketika aku terpancing untuk menguak cerita lama dan dia juga mengakui bahwa dia menyakiti perasaanku. Dia bilang dia menghubungiku lagi sebenarnya untuk meminta maaf, namun yang kulihat setiap hari dia hanya mengirimkan pesan, apa kabar?, lagi ngapain?, selalu begitu selama beberapa hari. Dia bilang sedang menunggu saat yang tepat untuk minta maaf tapi tidak pernah menemukan waktu yang tepat itu. Jawaban terakhirku padanya "gak ketemu waktu yang tepat atau gak pernah benar-benar mau ngelakuin itu (minta maaf)". Setelah itu dia baru mengatakan maaf tapi aku sudah malas menjawabnya. Pesan terakhir darinya tanggal 22 Agustus dan masih belum kubalas.


Aku hanya ingin orang-orang itu merasakan apa yang aku rasakan. Dianggap remeh dan ditinggalkan rasanya tidak enak, bukan? dan setelah ini aku tidak ingin ada siasat pembalasan lagi. Aku lelah dengan orang seperti itu. Mungkin setelahnya jika ini terjadi lagi dengan orang baru maka aku langsung pergi saja tanpa berkata apapun. Orang yang menyakiti jika diberi kesempatan kadang hanya akan memberikan luka yang lebih dalam dimasa depan.

Leave a Reply